Langsung ke konten utama

Hipotesis adanya lubang hitam purba di tepian tatasurya

Ilustrasi lubang hitam purba  kredit: space image/ NASA

Pertama kali dinyatakan pada tahun 2014 bahwa tata surya kita kemungkinan besar memiliki planet kesembilan yang terletak di tepian tata surya!
Menurut sebuah studi terbaru, bisa jadi planet kesembilan ini bukanlah planet, melainkan lubang hitam.

Bagaimana bisa?

Memang, planet kesembilan sejauh ini belum berhasil juga untuk diamati wujudnya. Ia berada terlalu jauh dari Matahari sehingga sangat redup. Ditambah lagi, para astronom tidak tahu pasti di mana letak sang planet misterius itu.

Alih-alih menemukan wujud sang planet kesembilan, sebuah makalah penelitian terbaru menunjukkan bahwa efek gravitasi yang mempengaruhi beberapa objek di tepian tata surya kita bisa jadi bukan berasal dari objek berwujud planet, melainkan dari lubang hitam purba, sejenis lubang hitam kecil yang menurut teori terbentuk sejak Big Bang.

Meskipun keberadaan lubang hitam purba semacam ini belum dikonfirmasi, beberapa astronom berpendapat bahwa alam semesta dipenuhi oleh sedikitnya 80% jenis lubang hitam tersebut.

Asal-muasal Planet Kesembilan
Di pinggiran tata surya kita, terdapat ribuan benda es kecil yang membentuk wilayah yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper. Pengamatan tahun 2016 oleh astronom dari Intitut Teknologi California, AS, menemukan bahwa enam dari ribuah benda es kecil itu tampaknya memiliki orbit yang aneh, yang mengindikasikan adanya sumber gravitasi besar yang mempengaruhi mereka namun tidak diketahui dari mana asalnya.



Simulasi komputer dan model matematika pun mengungkap bahwa pelaku dari sumber gravitasi besar tersebut bisa jadi merupakan sebuah planet misterius yang berjarak jauh dari Matahari dan belum sempat kita temukan: Planet kesembilan.

Dalam studi awal mengenai planet kesembilan yang dipublikasikan tiga tahun yang lalu, dua astronom keplanetan dari Institut Teknologi California Konstantin Batygin dan Michael Brown menghitung dari efek tarikan gravitasi yang dihasilkan planet kesembilan, diperkirakan planet ini memiliki massa hingga 10 kali massa Bumi.

Jalur orbit planet kesembilan pun juga diketahui, yang rata-rata mengorbit Matahari pada jarak 20 kali lebih jauh dari jarak Matahari ke Neptunus, atau sekitar 20 miliar kilometer. Dengan begitu, diperlukan waktu antara 10.000 dan 20.000 tahun untuk sang planet menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi Matahari. Sebagai perbandingan, Pluto membutuhkan 248 tahun untuk mengelilingi Matahari.

Sejak saat itu, pencarian planet kesembilan dimulai. Beberapa teleskop berbasis antariksa maupun berbasis darat juga digunakan. Hingga artikel ini dinaikkan, hasilnya nihil. Para astronom belum juga bisa mencitrakan langsung planet tersebut.

Jangan-jangan Lubang Hitam
Berbagai studi mengenai planet kesembilan juga banyak dipublikasikan, hingga akhirnya sampai pada studi terbaru tentangnya yang dipublikasikan di laman arXiv: jangan-jangan planet kesembilan ini adalah lubang hitam?

Untuk sampai pada kesimpulan itu, para astronom tidak hanya mempelajari gerak orbit aneh enam objek Sabuk Kuiper yang sempat disinggung di atas, tetapi juga menemukan bahwa pergerakan cahaya melalui tata surya tampaknya mengalami pembengkokan karena keberadaan suatu objek yang belum diidentifikasi dengan baik oleh para astronom.

Kedua fenomena aneh ini kemungkinan disebabkan oleh keberadaan lubang hitam purba di tepian tata surya, yang selama ini dianggap sebagai planet misterius. Sang lubang hitam purba, menurut studi ini, memiliki diameter hanya seukuran bola bowling, namun dengan massa 10 kali massa Bumi!

Para peneliti juga mengatakan bahwa sekelompok padat planet mengambang bebas di luar tata surya kita dapat menjelaskan pembengkokan cahaya; oleh logika itu, Planet Sembilan bisa menjadi salah satu penjelajah bebas yang ditangkap oleh tata surya kita.

Eits, walau begitu, studi ini masih perlu pengamatan lanjutan. Para astronom di balik studi baru bahkan ini mengatakan bahwa pengamatan langsung terhadap sang objek misterius ⁠wajib hukumnya untuk dilakukan guna membantu menentukan apakah itu planet atau lubang hitam purba.

Dengan begitu, pencarian planet kesembilan ke depannya tidak hanya akan mengandalkan pengamatan melalui cahaya tampak saja, melainkan juga melalui sinar-X, sinar gamma, dan jenis radiasi lainnya.

Jika para astronom mendeteksi sinyal-sinyal misterius selain dari cahaya tampak, mereka dapat mengetahui apakah planet kesembilan adalah lubang hitam purba atau bukan.

Hmm, menarik ditunggu, kan? Kalau memang merupakan lubang hitam purba, ia akan menjadi lubang hitam terdekat dari Bumi yang pernah diketahui sejauh ini.

Sumber: infoastronomy.org

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Astronom Menemukan Bintang Yang Secara Harfiah Menyeret Ruang-Waktu Disekitarnya

Salah satu prediksi teori relativitas umum Einstein adalah bahwa setiap benda yang berputar menarik ikatan ruang-waktu di sekelilingnya.  Ini dikenal sebagai frame dragging (menyeret bingkai).  Dalam kehidupan sehari-hari, frame-dragging tidak terdeteksi dan tidak penting, karena efeknya sangat kecil.  Mendeteksi frame-dragging yang disebabkan oleh putaran Bumi membutuhkan satelit seperti Gravity Probe B yang seharga  $ 750 juta US untuk mendeteksi perubahan sudut pada giroskop yang setara dengan hanya satu derajat setiap 100.000 tahun atau lebih.  Beruntung bagi kita, Semesta mengandung banyak laboratorium gravitasi yang terjadi secara alami di mana fisikawan dapat mengamati prediksi Einstein di tempat kerja dengan sangat rinci.  Penelitian tim yang diterbitkan di Science Alert mengungkapkan bukti penyeretan bingkai pada skala yang jauh lebih terlihat, menggunakan teleskop radio dan sepasang bintang kecil yang unik saling berkeliaran dengan kecepata...

Para ilmuwan temukan cara untuk mengetahui apakah suatu dunia asing memiliki iklim yang cocok untuk kehidupan dengan cara menganalisis cahaya dari dunia asing tersebut.

Credit: NASA/JPL-Caltech Peneliti Astrobiologi NASA Mengidentifikasi Fitur yang Dapat Digunakan untuk Mendeteksi Iklim yang Ramah Kehidupan di "Dunia Lain" Para ilmuwan telah menemukan cara untuk mengetahui apakah dunia asing memiliki iklim yang cocok untuk kehidupan dengan menganalisis cahaya dari dunia asing ini dengan seseorang tanda khusus yang merupakan karakteristik dari lingkungan yang ramah kehidupan. Teknik ini dapat mengungkapkan tepi bagian dalam zona layak huni bintang, wilayah di sekitar bintang di mana air cair dapat ada di permukaan planet berbatu. "Planet layak huni secara definisi memiliki air di permukaannya," kata Eric Wolf dari University of Colorado, Boulder. “Namun, air bisa berbentuk lautan, es, salju, uap, atau awan. Masing-masing bentuk air ini memiliki efek yang sangat berbeda pada iklim. Namun, setiap bentuk juga memiliki efek spesifik yang mungkin dapat kita deteksi di planet-planet ini, dan digunakan untuk menentukan apakah sebuah ...

Persamaan baru tentang lubang cacing

Lubang cacing.  STOCKERNUMBER2 / SHUTTERSTOCK II Ada persamaan baru yang mengambang di sekitar dunia fisika akhir-akhir ini yang akan membuat Einstein bangga.  Cukup mudah diingat: ER = EPR.  Anda mungkin menduga bahwa untuk membuat persamaan ini berfungsi, P harus sama dengan 1. Tetapi simbol dalam persamaan ini bukan untuk angka, tetapi untuk nama.  E, Anda mungkin menebak, singkatan dari Einstein.  R dan P adalah inisial - untuk kolaborator di dua makalah Einstein yang paling menarik.  Dikombinasikan dalam persamaan ini, surat-surat ini mengungkapkan jalan yang mungkin untuk merekonsiliasi relativitas umum Einstein dengan mekanika kuantum.  Mekanika kuantum dan relativitas umum keduanya adalah teori yang sukses luar biasa.  Keduanya meramalkan fenomena aneh yang menentang konsepsi tradisional tentang realitas.  Namun ketika diuji, alam selalu mematuhi persyaratan masing-masing teori.  Karena kedua teori tersebut menggambarkan ...